Senin, 4 Maret 2024

Editorial

Ayo Nyoblos Jangan Golput

Supriyadi
Senin, 12 Februari 2024 19:59:00
Supriyadi, Editor Murianews.com

TANGGAL 14 Februari 2024, tinggal satu hari lagi. Tepat di hari Rabu Legi itu Indonesia akan menggelar hajatan besar untuk memilih pemimpin melalui sekema pemilihan umum (Pemilu).

Yang dipilih tak hanya Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Melainkan DPD, DPR RI, DPRD Provinsi hingga DPRD Kabupaten. Merekalah yang bakal menentukan wajah dan warna Indonesia selama lima tahun ke depan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggaran, sudah menyiapkan semua sarana dan prasarana dalam pemilu yang bertepatan dengan hari valentine ini. Semua logistik, termasuk surat suara masing-masing jenang juga sudah dikirim.

Semua sudah siap. Tinggal pemilihnya.

Nah bicara pemilih, di sinilah sebenarnya pekerjaan rumah dari setiap pemilu yang digelar di Indonesia. Dari tahun ke tahun grafik partisipasi pemilih menunjukkan grafik naik turun. Hal ini terlihat dari jumlah partisipasi pemilih dalam lima terakhir Pilpres

Di tahun 2004, partisipasi pemilih dalam Pilpres berada di angka 79,76 persen. Jumlah ini terbilang tinggi. Namun di Pilpres 2009 jumlah pemilihnya turun menjadi 74,81 dan anjlok menjadi 69,78 persen di pilpres 2014.

Baru di Pilpres Tahun 2019 partisipasi pemilih kembali naik sangat tinggi, yakni di angka 81,97 persen. Selain pengaruh dari figur calon presiden, naik turunnya angka partisipasi ini juga didasari kesadaran masyarakat.

Diakui atau tidak, beberapa orang mungkin berpikir golput adalah hak individu dan tindakan yang sah. Alasannya bermacam-macam. Mulai dari tidak ingin salah memilih pemimpin hingga merasa jengah dengan kondisi politik di negeri ini.

Beberapa orang bahkan beranggapan siapapun pemimpinnya kehidupannya tidak akan berubah. Akibatnya, timbul lah rasa apatis untuk memilih seorang pemimpin. Ironisnya pemahaman ini ditularkan. Hasilnya golput mengular dan jadi pilihan.

Buah pemikiran inilah yang seharusnya diubah. KPU yang menjadi penyelenggara pemilu tidak bisa bekerja sendiri untuk memahamkan generasi kroco yang memiliki pemikiran apatis tersebut.

Butuh semua pihak. Termasuk kalangan terpelajar dan Gen Z untuk memelopori pemahaman pentingnya satu suara untuk menentukan nasib bangsa dalam lima tahun usai Pilpres.

Apalagi berkaca dari sejarah, pemilihan umum merupakan produk demokrasi yang digunakan untuk melibatkan warga sebuah negara untuk menentukan pemimpin. Saat warga tak punya hak memilih, mereka hanya akan dipimpin para diktator yang tak tahu siapa rakyatnya.

Nah, supaya tak salah pilih, yuk kita ke TPS untuk mencoblos. Jangan sampai golput ya... (*)

Komentar