Elit politik India memiliki persepsi bahwa India merupakan pewaris kolonial Eropa di Asia Selatan yang berhak memimpin negara-negara di Asia Selatan dan mendapatkan kembali kejayaan di masa lalu.
Persepsi ini yang kemudian memunculkan doktrin bahwa negara-negara di Asia Selatan harus tunduk pada supremasi India pasca-kolonial (Khanum, 2020).
Ambisi hegemoni India didukung kondisi riil negara tersebut sebagai kekuatan dominan di Asia Selatan.
India memiliki luas wilayah seluas 3.287.000 kilometer persegi atau 73 persen dari total luas wilayah Asia Selatan sebesar 4.480.000 kilometer persegi.
Data demografi tahun 2024 menunjukkan, India memiliki jumlah penduduk sebesar 1.450.935.791 jiwa atau 70 persen dari total penduduk Asia Selatan yang berjumlah 2.064.056.491.
Dari sisi ekonomi, India merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Selatan dengan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar USD 3.199.055,01.
PDB Pakistan yang berada di urutan kedua hanya berjumlah USD 400.165,1. Terpaut jauh di bawah India.
Angka-angka tersebut menunjukkan dominasi ekonomi India dibandingkan negara-negara Asia Selatan lainnya. India bahkan belakangan diistilahkan sebagai mesin ekonomi Asia Selatan.
ITIKAD negara-negara Asia Selatan untuk membentuk forum kerja sama ekonomi dan stabilitas regional terwujud dalam South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC).
Organisasi regional Asia Selatan yang berdiri pada tahun 1985 ini terdiri dari delapan negara: India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Bhutan, Maladewa, dan Afganistan.
Berbagai upaya telah dilakukan SAARC untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Asia Selatan, seperti pembentukan South Asia Free Trade Area (SAFTA) pada tahun 2006.
Perjanjian perdagangan bebas ini diharapkan meningkatkan aliran barang dan jasa di antara anggota SAARC. Melalui penurunan tarif bea masuk, diharapkan perekonomian negara-negara Asia Selatan lebih berkembang.
Namun hingga menjelang empat dekade berdirinya SAARC, belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Negara-negara anggota SAARC masih menghadapi kemiskinan, konflik, dan rasa saling curiga.
Organisasi regional ini belum mampu memenuhi harapan masyarakat Asia Selatan. Perjalanan SAARC diungkapkan ’’kegagalannya lebih terasa dibandingkan pencapaiannya’’. SAARC belum mampu bekerja efektif untuk kesejahteraan masyarakat Asia Selatan (Rafiq, 2018).
Terdapat berbagai analisis yang menyebabkan SAARC belum menjadi organisasi regional yang efektif seperti ASEAN yang dinilai lebih berhasil dalam menciptakan kerja sama ekonomi dan stabilitas regional di Asia Tenggara. Kurang efektifnya kinerja SAARC disebabkan oleh beberapa hal.
Rumitnya Hubungan India vs Pakistan
India dan Pakistan, dua negara terbesar di Asia Selatan sering terlibat perselisihan sejak kemerdekaan hingga saat ini.
Sedikitnya empat kali terjadi perang terbuka antara kedua negara tersebut: tahun 1947, 1965, 1971, dan 1999. Isunya sama: memperebutkan wilayah Kashmir.
Hubungan India dan Pakistan yang buruk akibat isu Kashmir dipertajam dengan narasi-narasi kebencian yang dikemukakan elit politik kedua negara.
Permusuhan India dan Pakistan berimplikasi pada kinerja SAARC. Terjadi penundaan atau pembatalan KTT SAARC, seperti KTT Tahun 2016 dan beberapa konferensi akibat permusuhan kedua negara.
India mencurigai Pakistan menggunakan KTT SAARC untuk berkoalisi dengan negara lainnya berkaitan isu-isu sensitif seperti isu Kashmir.
Permusuhan kedua negara yang menjadi pemain kunci ini berimplikasi pada kegagalan penyelenggaran KTT- KTT SAARC yang lebih jauh menjadi penyebab terganggunya kinerja SAARC.
Ambisi India
Ketidakefektifan kinerja SAARC juga disebabkan ambisi hegemoni India yang ingin menjadi pemimpin di kawasan selatan.
Sikap India terhadap negara-negara di lingkungannya ini disebabkan faktor psikologis elit politik India sejak era Jawaharlal Nehru hingga Narendra Modi.
Elit politik India memiliki persepsi bahwa India merupakan pewaris kolonial Eropa di Asia Selatan yang berhak memimpin negara-negara di Asia Selatan dan mendapatkan kembali kejayaan di masa lalu.
Persepsi ini yang kemudian memunculkan doktrin bahwa negara-negara di Asia Selatan harus tunduk pada supremasi India pasca-kolonial (Khanum, 2020).
Ambisi hegemoni India didukung kondisi riil negara tersebut sebagai kekuatan dominan di Asia Selatan.
India memiliki luas wilayah seluas 3.287.000 kilometer persegi atau 73 persen dari total luas wilayah Asia Selatan sebesar 4.480.000 kilometer persegi.
Data demografi tahun 2024 menunjukkan, India memiliki jumlah penduduk sebesar 1.450.935.791 jiwa atau 70 persen dari total penduduk Asia Selatan yang berjumlah 2.064.056.491.
Dari sisi ekonomi, India merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Selatan dengan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar USD 3.199.055,01.
PDB Pakistan yang berada di urutan kedua hanya berjumlah USD 400.165,1. Terpaut jauh di bawah India.
Angka-angka tersebut menunjukkan dominasi ekonomi India dibandingkan negara-negara Asia Selatan lainnya. India bahkan belakangan diistilahkan sebagai mesin ekonomi Asia Selatan.
Berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk, dan kekuatan ekonomi, India memang terlihat sangat dominan di Asia Selatan.
Ketidakseimbangan kekuatan atau ’’asimetri regional’’ yang kontras memunculkan kecurigaan negara-negara anggota SAARC: India dicurigai memiliki kepentingan nasional tersendiri sehingga bersikap hegemonistik terhadap negara lainnya.
Sifat hegemonistik India menciptakan lingkungan yang kurang kondusif untuk keberhasilan SAARC sebagai organisasi regional.
Kecurigaan dan ketidakpercayaan mewarnai perjalanan SAARC yang awalnya didirikan untuk menciptakan kerja sama yang sederajat dan terintegrasi di kawasan Asia Selatan.
Persoalan Batas Negara
Negara-negara anggota SAARC hingga kini memiliki masalah perbatasan wilayah yang belum tuntas dan berpotensi menimbulkan konflik.
Sebagian besar negara-negara SAARC mempunyai sengketa wilayah satu sama lain.
India memiliki masalah perbatasan dengan Pakistan, Nepal, Bangladesh, dan Sri Lanka.
Di antara anggota-anggota SAARC, hanya Maladewa dan Afganistan yang tidak memiliki sengketa perbatasan dengan India (Salihi, 2023).
Pakistan dengan Afganistan juga menghadapi sengketa Garis Durand, yakni batas internasional sepanjang 2.430 kilometer yang memisahkan kedua negara.
Untuk mewujudkan organisasi regional yang efektif, diperlukan integrasi regional yang baik di antara anggota SAARC.
Sengketa perbatasan yang berpotensi konflik perlu diselesaikan sehingga tidak membebani kinerja SAARC.
Isu konflik Kashmir yang merupakan sengketa perbatasan India dan Pakistan telah membuktikan bagaimana kinerja SAARC terpengaruh signifikan.
Berdasarkan paparan sebelumnya, untuk mewujudkan SAARC sebagai organisasi regional yang berjalan secara efektif tidak mudah.
Diperlukan itikad dan komitmen negara-negara anggota SAARC terutama India dan Pakistan sebagai negara terbesar di Asia Selatan dan dalam relasi yang kurang harmonis.
Tanpa komitmen India dan Pakistan, SAARC niscaya menjadi organisasi regional yang efektif seperti ASEAN yang dinilai model organisasi regional yang berhasil dalam meningkatkan kemajuan perekonomian dan kohesivitas negara-negara di Asia Tenggara. (*)