Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Namun hasilnya sudah diketahui bersama. Dari delapan pertandingan, hanya ada tiga kemenangan, satu imbang, empat kalah. Timnas Indonesia akhirnya mandeg di babaj ke-4 Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Di bawah Kluivert, Timnas Indonesia dihadapka pada tekanan, ekspektasi dan lawan tangguh. Tetapi Work‐rate pemain, kestabilan, mental bertanding, adaptasi taktik, hingga aspek non‐teknis (kultur) terbukti Timnas Indonesia menampakan kelemahan serius.

Seperti sebuah kapal besar yang diganti nahkoda dengan reputasi besar, namun awak kapal dan mesin belum sepenuhnya disiapkan. Mungkin seperti itu gambaran pada Timnas Indonesia baru-baru ini. Hasilnyapun, seperti mimpi yang berakhir mengecewakan.

Kultur Sepak Bola Indonesia, sepetinya juga menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam kaitan pemilihan pelatih Timnas Indonesia yang baru. Filosofi “Total Football” atau “tiki‐taka” bisa menarik, tapi jika tidak sesuai karakter pemain kita malah bisa jadi beban.

Pelatih yang datang tidak bisa hanya membawa “sistem sudah jadi”, tetapi juga harus memahami bagaimana potensi pemain Timnas Indonesia. Pelatih baru harus bisa menyederhanakan taktik dan strategi agar efektif dan bisa dipahami pemain.

Pengalaman membangun sebuah tim, juga dibutuhkan pelatih Timnas Indonesia nantinya. Alih‐alih memilih pelatih yang hanya punya nama besar tapi minim pengalaman. Timnas Indonesia butuh seorang arsitek, dan bukan hanya sekedar juru tembak.

Timnas Indonesia, boleh bermimpi bisa memainkan gaya sepak bola yang indah. Tetapi akan lebih tepat dan bijaksana jika bisa realistis. Menggunakan gaya yang sesuai dengan karakter pemain ala Asia, yang cepat, lincah, agresif, dan punya semangat kolektif lebih cocok. Bukan malah mencoba menggunakan gaya “possession ball” ala Eropa yang dipaksakan.

Bukan Akhir...

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Gagasan Terkini

Terpopuler