Tetapi, apakah Timnas Indonesia, atau sepak bola Indonesia menyerah? Tentu saja tidak boleh seperti itu. Timnas Indonesia harus segera belajar dari kegagalan di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Setelah ’nyaris membuat sejarah’ hendaknya semangat yang sama harus tetap ada.
Kluivert, yang dipilih PSSI pada Januari 2025 memimpin Timnas Indonesia menggantikan Shin Tae‑yong, terbukti telah gagal membawa Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026. Dan itu tidak perlu disesali berkepanjangan.
Sepak bola Indonesia secepatnya harus melupakan kegagalan itu, untuk bersiap kembali ke Piala Dunia 2030. Selama 4 tahun berikutnya, Timnas Indonesia harus bisa disiapkan dengan penuh perhitungan dan penuh keyakina.
Pada tahap awal, tentu saja PSSI harus segera menentuka siapa yan akan menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia. Kali ini, PSSI tentu saja diharapkan bisa lebih jeli dan lebih seksama dalam menentukannya.
Kriteria pelatih yang ideal bagi Timnas Indonesia harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang. Tidak hanya berkemampua teknis kepelatihan dan pengalaman, tetapi juga harus selaras dengan kultur, mental, tantangan dan aspirasi sepak bola Indonesia.
Kluivert, sebelumnya datang dengan label “legenda Eropa”. Dia adalah mantan pemain top klub seperti Ajax Amsterdam, FC Barcelona dan timnas Belanda. Sosok ini juga memiliki jaringan di sepak bola Eropa, filosofi modern, dan nama besar.
KEGAGALAN Timnas Indonesia mewujudkan mimpi ke Piala Dunia, berujung pada pemecatan Patrick Kluivert. Dari semua hal yang menyertai kegagalan ini, mungkin semua harus segera mengakui, ’Kita memang Masih Kurang mampu bersaing’.
Tetapi, apakah Timnas Indonesia, atau sepak bola Indonesia menyerah? Tentu saja tidak boleh seperti itu. Timnas Indonesia harus segera belajar dari kegagalan di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Setelah ’nyaris membuat sejarah’ hendaknya semangat yang sama harus tetap ada.
Kluivert, yang dipilih PSSI pada Januari 2025 memimpin Timnas Indonesia menggantikan Shin Tae‑yong, terbukti telah gagal membawa Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026. Dan itu tidak perlu disesali berkepanjangan.
Sepak bola Indonesia secepatnya harus melupakan kegagalan itu, untuk bersiap kembali ke Piala Dunia 2030. Selama 4 tahun berikutnya, Timnas Indonesia harus bisa disiapkan dengan penuh perhitungan dan penuh keyakina.
Pada tahap awal, tentu saja PSSI harus segera menentuka siapa yan akan menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia. Kali ini, PSSI tentu saja diharapkan bisa lebih jeli dan lebih seksama dalam menentukannya.
Kriteria pelatih yang ideal bagi Timnas Indonesia harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang. Tidak hanya berkemampua teknis kepelatihan dan pengalaman, tetapi juga harus selaras dengan kultur, mental, tantangan dan aspirasi sepak bola Indonesia.
Kluivert, sebelumnya datang dengan label “legenda Eropa”. Dia adalah mantan pemain top klub seperti Ajax Amsterdam, FC Barcelona dan timnas Belanda. Sosok ini juga memiliki jaringan di sepak bola Eropa, filosofi modern, dan nama besar.
Kluivert...
Namun hasilnya sudah diketahui bersama. Dari delapan pertandingan, hanya ada tiga kemenangan, satu imbang, empat kalah. Timnas Indonesia akhirnya mandeg di babaj ke-4 Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Di bawah Kluivert, Timnas Indonesia dihadapka pada tekanan, ekspektasi dan lawan tangguh. Tetapi Work‐rate pemain, kestabilan, mental bertanding, adaptasi taktik, hingga aspek non‐teknis (kultur) terbukti Timnas Indonesia menampakan kelemahan serius.
Seperti sebuah kapal besar yang diganti nahkoda dengan reputasi besar, namun awak kapal dan mesin belum sepenuhnya disiapkan. Mungkin seperti itu gambaran pada Timnas Indonesia baru-baru ini. Hasilnyapun, seperti mimpi yang berakhir mengecewakan.
Kultur Sepak Bola Indonesia, sepetinya juga menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam kaitan pemilihan pelatih Timnas Indonesia yang baru. Filosofi “Total Football” atau “tiki‐taka” bisa menarik, tapi jika tidak sesuai karakter pemain kita malah bisa jadi beban.
Pelatih yang datang tidak bisa hanya membawa “sistem sudah jadi”, tetapi juga harus memahami bagaimana potensi pemain Timnas Indonesia. Pelatih baru harus bisa menyederhanakan taktik dan strategi agar efektif dan bisa dipahami pemain.
Pengalaman membangun sebuah tim, juga dibutuhkan pelatih Timnas Indonesia nantinya. Alih‐alih memilih pelatih yang hanya punya nama besar tapi minim pengalaman. Timnas Indonesia butuh seorang arsitek, dan bukan hanya sekedar juru tembak.
Timnas Indonesia, boleh bermimpi bisa memainkan gaya sepak bola yang indah. Tetapi akan lebih tepat dan bijaksana jika bisa realistis. Menggunakan gaya yang sesuai dengan karakter pemain ala Asia, yang cepat, lincah, agresif, dan punya semangat kolektif lebih cocok. Bukan malah mencoba menggunakan gaya “possession ball” ala Eropa yang dipaksakan.
Bukan Akhir...
Pemecatan Kluivert dan kegagalan bermain di Piala Dunia 2026 tentu bukan akhir dari Timnas Indonesia. Dari kegagalan ini sudah semestinya ada hal-hal yang bisa dijadikan sebagai pengalaman.
Di depan masih ada agenda-agenda Timnas Indonesia yang masih bisa digunakan untuk membangkitkan semangat baru. Piala Asia 2027 juga merupakan turnamen yang bisa digunakan untuk menunjukan Timnas Indonesia hebat.
Lebih khusus lagi, mimpi ke Piala Dunia juga harus tetap terus hidup di sepak bola Indonesia. Piala Dunia 2030 yang berikutnya memiliki peluang yang lebih besar bagi Timnas Indonesia. Masa persiapan 4 tahun bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Regulasi baru di Piala Dunia 2030 yang kabarnya akan mengakomodir jumlah peserta baru adalah peluang yang harus bisa ditangkap Timnas Indonesia. Jangan sampai padam semangat itu. Asa itu masih ada untuk Timnas Indonesia.