Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Ketika kebenaran menjadi alat justifikasi, kita perlu kembali pada refleksi filosofis yang menjadi dasar konsep dasar tentang kebenaran. Di era Aristotle, kebenaran diartikan sebagai kesesuaian antara pernyataan dan realitas.

Jika dikaitkan dengan konflik ini maka ada satu kemungkinan bahwa kebenaran akan menjadi benar apabila didukung dengan fakta yang mendukung. Namun, dalam konflik realitas tidak sepenuhnya transparan.

Informasi dapat dimanipulasi, dikontrol, dan diseleksi secara sepihak untuk mendapatkan dukungan. Dalam kondisi konflik, seperti yang terjadi di Timur Tengah, fakta menjadi kabur oleh propaganda dan kepentingan politik. Sehingga prinsip idealism kebenaran seperti yang dimaksud oleh Aristotle, sulit dicapai.

Berbeda dengan Aristotle, Socrates mengajarkan bahwa kebenaran tidak langsung ditemukan, namun harus dicari melalui proses dialog, pertanyaan kritis, dan refleksi yang mendalam.

Kebenaran harus diuji melalui metode dialektika (Tanya-jawab), dan menemukan kotradiksi sehingga pada akhirnya mengarah pada pemahaman yang lebih benar. Seperti ungkapan terkenalnya “ Saya tahu bahwa saya tidak tahu”, menyadarkan kita bahwa pikiran manusia sangat terbatas.

Jika teori Socrates dikaitkan dengan konflik saat ini, maka semua klain yang dilontarkan oleh pihak yang berperang perlu diuji, dipertanyakan dan dikritisi. Namun dalam konteks geopolitik, dialog justru terkesan menjadi ajang saling klaim keberan kelompok.

Pihak yang bertikai malah lebih terkesan sibuk meyakinkan public bahwa merekalah yang paling benar.

Sementara itu, pemikiran Jacques derrida membawa kita pada perpektif yang lebih radikal. Dalam teori dekonstruksi, kebenaran tidak pernah mutlak. Kebenaran adalah hasil dari konstruksi bahasa, narasi, dan kekuatan untuk memutarbalikkan fakta.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Gagasan Terkini