Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

DALAM dua pekan terakhir, jagat maya diramaikan kabar mengejutkan: sekolah dasar negeri kekurangan murid. Di tengah semangat tahun ajaran baru, justru muncul ironi kelas-kelas sunyi, guru menatap bangku kosong, dan lonceng masuk berbunyi tanpa disambut langkah kaki anak-anak.

Fenomena ini menjadi sorotan media sekaligus bahan renungan publik. Ke mana anak-anak kita? Mengapa sekolah yang mestinya jadi tempat harapan justru kehilangan denyutnya?

Data terbaru dari Kompas (16 Juli 2025) memperkuat kegelisahan ini. Di Trenggalek, ada SD negeri yang hanya menerima satu siswa baru pada hari pertama masuk sekolah.

Situasi serupa terjadi di banyak daerah lain, dari kota besar hingga pelosok. Bangunan sekolah berdiri, guru hadir, dana operasional tersedia—tapi murid tak kunjung datang. Ini bukan sekadar masalah demografi, tapi ada sesuatu yang lebih mendasar: krisis kepercayaan.

Sementara itu, SD swasta dan MI swasta justru dibanjiri peminat. Sekolah-sekolah ini menjadi rebutan, bahkan harus menolak banyak pendaftar karena kuota terbatas. Di kota-kota besar, antrean bisa mencapai ratusan calon siswa.

Harian Kompas (16 Juli 2025) mencatat biaya masuk SD swasta kini mencapai hampir lima kali gaji bulanan orang tua. Meski mahal, sekolah-sekolah tersebut tetap penuh, bahkan sebagian membuka gelombang tambahan karena tingginya permintaan.

MI swasta pun menunjukkan tren serupa. Dengan pendekatan tematik, pendidikan agama, program tahfidz, serta relasi hangat antara guru dan siswa, madrasah ibtidaiyah swasta menjadi pilihan utama di banyak tempat.

Bahkan di beberapa daerah, MI lebih dikenal dan dipercaya dibanding SD negeri terdekat. Ini menandakan bahwa bukan gratis atau mahal yang jadi penentu, tapi kualitas layanan, suasana pembelajaran, dan—terutama—kepemimpinan yang hidup dan menginspirasi.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Gagasan Terkini

Terpopuler