Kesempatan saya mengenal Rudy William Keltjes adalah saat dirinya menangani Persijap Jepara di sekitaran tahun 2004-2005. Kebetulan, sebagai wartawan olahraga saya berkesempatan bisa berinteraksi dengan salah satu legenda sepak bola Indonesia ini.
Megenal Rudy William Keltjes, terlepas dari konteks profesi saya sebagai wartawan olahraga adalah sesuatu yang luar biasa. Namanya sudah saya kenal sejak saya belum menjadi seorang wartawan.
Sehingga ada perasaan surprise saat akhirnya bisa mengenal langsung sosok Rudy William Keltjes. Badannya yang tinggi, sikap disiplin kerasnya, dan kharismanya memberi kesan luar biasa dari banyak pelatih sepak bola yang saya kenal.
Selama waktunya di Persijap Jepara, ada banyak kenangan yang hingga saat ini masih saya ingat. Meski tentu saja, belum tentu Rudy William Keltjes mengingatnya disaat masih hidup dulu.
Di Persijap Jepara, saat itu Rudy William Keltjes menunjuk asisten pelatih pada diri Widodo C Putro. Nama ini juga menjadi salah satu legenda lain di sepak bola Indonesia.
Jadi bisa dikatakan, pada periode itu saya sangat beruntung bisa mengenal dua sekaligus sosok legenda sepak bola di Indonesia. Rudy William Keltjes dan Widodo C Putro, pencipta gol terbaik di Piala Asia 1996 yang spektakuler.
Bersama dua orang top di sepak bola nasional ini, saya merasa beruntung bisa memiliki hubungan baik bersama mereka. Meski sekali lagi, perasaan yang sama sangat mungkin tidak akan ada di benak dua orang hebat ini.
SEBAGAI wartawan olahraga di Jepara saya ikut merasa sedih saat mengetahui Rudy William Keltjes berpulang. Meski sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan sosok ini, namun ada beberap kenangan bersamanya yang tidak bisa saya lupakan.
Kesempatan saya mengenal Rudy William Keltjes adalah saat dirinya menangani Persijap Jepara di sekitaran tahun 2004-2005. Kebetulan, sebagai wartawan olahraga saya berkesempatan bisa berinteraksi dengan salah satu legenda sepak bola Indonesia ini.
Megenal Rudy William Keltjes, terlepas dari konteks profesi saya sebagai wartawan olahraga adalah sesuatu yang luar biasa. Namanya sudah saya kenal sejak saya belum menjadi seorang wartawan.
Sehingga ada perasaan surprise saat akhirnya bisa mengenal langsung sosok Rudy William Keltjes. Badannya yang tinggi, sikap disiplin kerasnya, dan kharismanya memberi kesan luar biasa dari banyak pelatih sepak bola yang saya kenal.
Selama waktunya di Persijap Jepara, ada banyak kenangan yang hingga saat ini masih saya ingat. Meski tentu saja, belum tentu Rudy William Keltjes mengingatnya disaat masih hidup dulu.
Di Persijap Jepara, saat itu Rudy William Keltjes menunjuk asisten pelatih pada diri Widodo C Putro. Nama ini juga menjadi salah satu legenda lain di sepak bola Indonesia.
Jadi bisa dikatakan, pada periode itu saya sangat beruntung bisa mengenal dua sekaligus sosok legenda sepak bola di Indonesia. Rudy William Keltjes dan Widodo C Putro, pencipta gol terbaik di Piala Asia 1996 yang spektakuler.
Bersama dua orang top di sepak bola nasional ini, saya merasa beruntung bisa memiliki hubungan baik bersama mereka. Meski sekali lagi, perasaan yang sama sangat mungkin tidak akan ada di benak dua orang hebat ini.
Dari Sekian....
Dari sekian banyak kenangan bersama Rudy William Keltjes dan Widodo C Putro, ada yang ingin saya bagikan kepada anda semua. Tentu saja, prespektif saya tentang kenangan ini bisa saja tidak sama di sisi pihak lain yang mungkin berada di lingkaran kejadiannya.
Salah satu kenangan itu adalah saat Persijap menjalani lawatan pertandingan ke kandang PSIS Semarang di Piala Copa Indonesia 2005 (jika tidak salah). Saat itu Persijap dibawah Rudy William Keltjes adalah salah satu tim kuda hitam di sepak bola nasional.
Pada masa itu, Persijap diperkuat sejumlah pemain yang hingga saat ini lekat di hati para penggemar Laskar Kalinyamat. Jika tidak salah, ada Evaldo Silva, Phayton Thiabma, Jimmy Suparno, Dony Fernando, Miro Baldo Bento dan Danang Wihatmoko.
Banyak pemain yang tidak saya ingat lagi, yang ikut pada saat itu. Namun satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah peristiwa penyerangan para pendukung PSIS pada bus pemain Persijap Jepara, di luar Stadion Jatidiri Semarang.
Saya menjalani kejadian ini sebagai saksi hidup. Saat itu saya kebetulan ikut dalam bus yang membawa para pemain Persijap Jepara dari hotel ke Jatidiri Semarang.
Seingat saya, bus Persijap saat itu dikawal sebuah kendaraan lapis baja dan motor besar para polisi. Pengawalan ketat ini memang menjadi sesuatu yang wajar mengingat rivalitas Persijap dan PSIS saat itu benar-benar sengit dan panas.
Perjalanan bus Persijap dari Hotel menuju Jatidiri Semarang pada awalnya baik-baik saja. Dengan formasi bus dan kendaraan lapis baja berada di depan, tidak ada masalah hingga memasuki kawasan Jatidiri Semarang.
Kerumunan-kerumunan pendukung PSIS kami lewati tanpa ekses apapun, sampai semuanya berubah sesaat kami tepat berada di sisi Utara Jatidiri. Sekitar 200-an meter dari pintu masuk stadion, bus kami harus melambat.
Saat itulah......
Saat itulah kerumunan pendukung PSIS Semarag menyadari bahwa bus yang ada di dekat mereka adalah rombongan Persijap. Reaksi liar akhirnya muncul, dari yang awalnya hanya pukulan tiang kayu bendera, berubah dengan batako dan batu yang dilempar ke arah jendela bus.
Suara keras pecahan kaca, lemparan batako dan batu yang menghantam badan bus memunculkan suasana horor di dalam bus. Saya yang saat itu membawa ransel kamera, langsung menggunakannya sebagai tameng pelindung.
Saya juga cukup ingat, sempat memberi saran pada para pemain Persijap di sekitar saya di posisi belakang untuk melakukan hal yang sama. Namun ada beberapa yang terlambat melakukan upaya melindungi diri.
Sehingga ada beberapa pemain Persijap yang mengalami luka akibat pecahan kaca dan lemparan dari para pendukung PSIS. Widodo C Putro adalah salah satu yang mengalami luka kecil di bagian keningnya.
Meski bus yang membawa kami rusak parah, kami cukup beruntung karena akhirnya masih bisa menjangkau pintu masuk stadion. Sehingga para petugas keamanan bisa menghindari serangan lanjutan.
Para pemain Persijap akhirnya bisa lebih aman saat sudah berada di dalam ruang ganti. Disinilah, saya mengetahui sikap keras seorang Rudy William Keltjes.
Sikapnya saat itu sangat jelas, ketika itu, Rudy William Keltjes menolak untuk menjalani pertandingan. Alasan keamanan menjadi hal yang paling urgen disampaikannya.
Manajer Persijap saat itu, alhmarhum Setiyono (Asisten I Sekda Jepara) juga memiliki pandangan yang sama. Dua tokoh sentral di Tim Persijap ini sudah bulat untuk menolak menjalani pertandingan.
Penolakan ini......
Penolakan ini membuat situasi menjadi mencekam, karena Jatidiri yang sudah luber oleh pendukung PSIS Semarang memunculkan admosfer berbahaya. Setidaknya itulah yang saya tangkap, ketika beberapa Panpel PSIS berdiplomasi dengan kubu Persijap.
Sampai sejauh yang terjadi ketika itu, Rudy William Keltjes tetap menyatakan tidak mau menjalani pertandingan. Setiyono juga menyatakan sikap serupa, sebelum akhirnya berubah saat Sukawi Sutarip, Walikota Semarang saat itu turun tangan.
Sukawi Sutarip, pada awalnya tidak mampu merubah pendirian Rudy William Keltjes. Pun demikian pada sikap Setiyono sebagai manajer Persijap.
Namun tidak kehilangan cara, Sukawi Sutarip akhirnya menghubungi Bupati Jepara, Hendro Martojo. Sukawi meminta tolong dengan sangat agar pertandingan tetap dilaksanakan.
Sukawi beralasan, jika pertandingan tidak digelar situasi di Jatidiri tidak akan bisa dikendalikan. Puluhan ribu pendukung PSIS dikatakan dikhawatirkan bisa meledak dalam aksi anarkisme jika pertandingn tidak jadi digelar.
Kepada Hendro Martojo, Sukawi Sutarip dikabarkan meminta agar Persijap bersedia bertanding, demi kondusifitas Semarang. Informasi ini saya dapatkan dari Manajer Persijap Setiyono ketika itu.
Rudy William Keltjes saat itu terlihat murka, namun tidak memiliki pilihan lain. Demikian pula Setiyono, juga tidak berkutik karena Hendro Martojo, atasanya, meminta Persijap tetap bermain demi kebaikan bersama.
Saat itu, Rudy William Keltjes sudah memaksa untuk bisa membawa para pemainnya meninggalkan stadion. Namun pihak Panpel PSIS Semarang juga tidak kehilangan cara, dengan menyatakan tidak ada petugas keamanan yang berani bertanggung jawab atas keamanan rombongan Persijap jika meninggalkan stadion.
Jadilah.......
Jadilah, pertandingan PSIS Semarang vs Persijap akhirnya digelar. Pada pertandingn ini, seingat saya akhirnya dimenangkan oleh tuan rumh PSIS Semarang dengan skor 2-1.
Kejadian ini adalah peristiwa yang pada akhirnya menjadi salah satu pengalaman hebat dalam karir saya sebagai wartawan. Sikap keras Rudy William Keltjes menjadi salah satu momen yang paling saya ingat.
Kini Rudy William Ketjes telah berpulang, dan saya membagikan pengalaman ini untuk mengenangnya. Meski ini bukan sebuah kenangan indah, namun ada banyak hal yang bisa saya pelajari tentang sepak bola Indonesia.
Ada banyak inspirasi dan banyak hal yang pada akhirnya memberi pengetahuan bagi saya, yang saat itu masih menjadi wartawan muda. Rudy William Keltjes, semoga mendapat tempat yang layak disisi Tuhan.