Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Istilah Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) sedang santer dijadikan bahan bercandaan ataupun banyolan di media sosial. Jika kita sedang berpikiran santai, mungkin dua kosa kata anyar itu memang hanya akan terdengar sebagai lelucon.

Namun jika kita memakai empati, tak ada yang mau menjadi mereka. Tak ada yang mau dicap sebagai Rojali ataupun Rohana. Tidak ada satu pun individu yang sejak awal berkeinginan untuk menjadi Rojali atau Rohana.

Dalam lubuk hati setiap mereka yang melangkah ke pusat perbelanjaan, ada hasrat kuat untuk membeli, untuk memiliki dan untuk merasakan kebahagiaan dari sebuah transaksi.

Mereka tidak ingin sekadar berkunjung untuk berfoto atau bertanya harga tanpa tujuan. Kunjungan mereka adalah sebuah ekspresi dari keinginan, yang pada akhirnya harus berhadapan dengan realitas dompet yang tidak memungkinkan.

Mereka yang berbondong-bondong datang ke mal, seolah-olah sedang menjalankan ritual "terapi jendela" (window shopping), yaitu menikmati suasana keramaian tanpa harus mengeluarkan uang.

Tindakan ini merupakan mekanisme bertahan hidup, di mana mereka tetap bisa bersosialisasi dan mencari hiburan murah di tengah tekanan ekonomi.

Dilihat dari pengamatan ekonomi, fenomena ini bukanlah sekadar perubahan gaya hidup, melainkan indikator masyarakat telah menggeser prioritas. Kebutuhan primer seperti pangan, sandang, dan papan, kini menempati urutan teratas.

Sementara keinginan sekunder atau tersier, seperti membeli barang-barang konsumtif, harus ditunda atau dibatalkan sama sekali.

Fenomena ini juga menjadi sebuah alarm yang berdering nyaring, mengirimkan sinyal bahaya tentang kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang patut dicermati.

Lebih dari sekadar tren, Rojali dan Rohana adalah cerminan nyata dari menurunnya daya beli dan potensi krisis ekonomi yang mungkin secara perlahan tengah melanda.

Tak boleh abai...

  • 1
  • 2
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Gagasan Terkini

Terpopuler