Senin, 4 Maret 2024

Fanatisme, Buah Cinta dari Kebodohan

Zulkifli Fahmi
Senin, 20 November 2023 12:46:00
Zulkifli Fahmi, Redaktur Murianews.com ([email protected])

”Kita boleh punya prinsip, tapi jangan fanatik, karena fanatik itu ciri orang bodoh,” demikian quote KH Ahmad Dahlan.

Sikap fanatik kerap kali dijumpai dalam kehidupan ini. Fanatik terhadap tim kebanggaan, partai politik, atau bahkan pada tokoh tertentu.

Quote yang diungkapkan bapak pendiri organisasi Islam Muhammadiyah ini tentu menjadi pengingat. Bahwa, sikap fanatik mestinya tak boleh terjadi.

Fanatik merupakan cara berpikir seseorang yang sangat dangkal. Tak punya prinsip. Karena sikap keliru atau bahkan salah tetap dianggap benar oleh para pemuja, penganut, dan fans-fans dari sosok yang dikagumi.

Sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini. Sikap fanatik suporter sepak bola terhadap tim kebanggaannya, harusnya tak sampai seharga nyawa.

Sebagai contoh trageti Kanjuruhan yang menewaskan ratusan nyawa. Sikap saling lempar tanggung jawab dan keselahan pun terjadi.

Mulai menyalahkan polisi yang menembakkan gas air mata di dalam stadion, hingga menuduh suporter yang merangsek masuk ke stadion secara bringas.

“Fanatik itu ciri orang bodoh” dari quote KH Ahmad Dahlan, cukuplah menjadi penegasan, bahwa sikap fanatik ini merupakan kecintaan yang tanpa dilandasi sebuah pokok pikiran yang lahir dari akal sehat.

Atau mungkin lebih tepatnya mereka tak menggunakan otaknya untuk berpikir. Akal yang mestinya menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya justru dibelenggu dengan hawa nafsunya.

Bahayanya akal yang telah dibelenggu hawa nafsu ini telah memberikan efek jahat yang luar biasa. Bahkan, Rasulullah pernah berpesan pada kaum Muslimin dengan mengatakan jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad yang besar.

Jadi kecintaan yang berlandaskan hawa nafsu dan kebodohan akan berujung pada sikap fanatik. Tak peduli yang didukung keliru atau salah, orang fanatik tetap menganggap itu benar.

Menjelang Pemilu 2024 ini, sikap fanatik seseorang akan menampakkan diri. Pendukung si A, si B, dan si C pastinya akan membela sosok yang didukungnya, terlepas dari salah tidaknya tindakan yang dilakukan.

Mereka menjelma menjadi buzzer untuk mengaburkan kebenaran demi sosok dambaannya memenangkan gelaran pesta demokrasi. Tak jarang, mereka juga saling lempar kampanye hitam atau ujaran kebencian untuk menjatuhkan sosok lainnya.

Maka, sebagai generasi yang cerdas, jadilah pemilih yang bijak. Pelajari track record para calon yang akan kita pilih nantinya. Gunakan akal pikiran, agar tak terjerumus dalam jurang fanatisme.

Komentar